Ada satu kalimat yang terus terngiang ketika saya membaca seluruh tulisan para guru alumni Kolese De Britto yang terkumpul dalam buku ini: “Hidup kita memang berawal dari banyak tempat, tetapi selalu ada satu tempat yang diam-diam membentuk arah perjalanan kita.” Bagi kami, para alumni, tempat itu bernama SMA Kolese De Britto.
Saat membaca kisah-kisah yang ditulis para guru ini, yang kini mengajar di berbagai penjuru negeri, di berbagai jenjang, di sekolah negeri, sekolah Katolik, sekolah nasional, sekolah internasional, hingga SLB, saya merasakan sesuatu yang sama berdenyut di setiap cerita: ada napas De Britto yang hidup dalam diri mereka. Sebuah napas yang tidak selalu diteriakkan, tapi terasa dalam cara mereka menulis, cara mereka memandang murid, cara mereka jatuh-bangun, bangkit lagi, dan cara mereka menafsirkan perjalanan hidup sebagai sebuah panggilan, bukan sekadar profesi.
Buku ini mengumpulkan fragmen-fragmen perjalanan dari para guru yang lahir dari rahim pendidikan Ignasian. Mereka berbeda angkatan, beda bakat, beda jalur hidup, ada yang dulu “anak nakal”, ada yang “biasa saja”, ada yang pemalu, ada yang rajin, ada yang bandel, dan ada juga yang sama sekali tidak pernah membayangkan jadi guru. Namun, benang merahnya sama: nilai-nilai yang mereka peroleh di Kolese De Britto tidak berhenti di bangku sekolah. Ia tumbuh, berakar, dan kemudian mekar dalam karya pelayanan seorang guru.
SMA Kolese De Britto memberikan ruang yang sangat terbuka bagi siapapun, siswa, guru dan karyawan untuk selalu tumbuh dan belajar. Tawaran nilai-nilai yang diberikan dan ditanamkan oleh lembaga ini menginspirasi untuk dikembangkan dimanapun berada, termasuk para alumni yang menjadi pendidik.
Tentang Jejak Nilai yang Tak Pernah Padam


Dari seluruh tulisan, ada beberapa value yang muncul berulang kali, begitu kuat dan konsisten, seolah De Britto memang menanamkannya hingga ke tulang-belulang:
- Man for Others / Man with Others
Para penulis menggambarkan bagaimana mereka ingin hadir bagi muridnya, bukan sekadar mengajar, tapi menemani, menyimak kegelisahan, membaca raut wajah, dan merawat sisi manusia dari setiap anak didik. - Kebebasan yang bertanggung jawab
Kebebasan ala De Britto yang sering disalahpahami, ternyata justru menjadi fondasi kedewasaan: berani memilih, berani mengambil risiko, dan berani menanggung konsekuensinya. Nilai inilah yang membuat para penulis berani merantau, mencoba profesi baru, kemudian akhirnya kembali ke panggilan mengajar. - Refleksi Ignasian
Dari eksamen harian sampai renungan spontan setelah kelas, para guru ini hidup dalam kesadaran. Setiap kegagalan, keberhasilan, dan perjumpaan dianggap sebagai ruang belajar. Banyak dari mereka bercerita, “Saya berhenti sejenak setelah kelas, bertanya apa yang bisa diperbaiki esok.” Inilah DNA pendidikan Ignasian: bertumbuh lewat refleksi. - Magis, berusaha menjadi lebih baik
Magis tidak selalu berarti prestasi besar. Dalam tulisan-tulisan ini, Magis justru tampil dalam bentuk paling sederhana: sabar menghadapi anak pre-school, tekun mendampingi siswa tuli yang belajar musik lewat getaran, atau mencoba metode baru meski takut gagal. - Cura personalis
Ada banyak kisah tentang kesabaran, kedekatan, dan perhatian personal yang sangat Ignasian. Guru-guru JB dahulu melakukan ini bagi kami. Kini giliran kami melakukannya bagi murid-murid kami.
Inilah nilai-nilai yang ternyata menetap jauh lebih lama daripada yang kita sadari ketika masih SMA.
Tentang Kisah Masa SMA yang Membekas
Beberapa penulis menyampaikan cerita lucu, unik, atau emosional dari masa SMA:
- nilai Bahasa Indonesia 0,75 yang justru jadi titik balik,
- ingin masuk JB “karena rambut boleh gondrong”,
- jatuh tertidur di perpustakaan lalu ditinggal teman-teman,
- pengalaman live-in yang membuka mata,
- mendampingi pengungsi Merapi 2010,
- bertemu guru-guru yang mengajar dengan hati,
- suasana “kandang munyuk” penuh kebebasan tetapi sekaligus penuh persaudaraan,
- nilai ½ dan ¼ yang membentuk mental,
- proses dimarahi romo yang justru jadi turning point.
Cerita-cerita ini mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak pernah hanya soal ruang kelas. Pendidikan adalah ekosistem: budaya pergaulan, relasi guru-siswa, dinamika antar teman, kegagalan-kegagalan kecil, dan keberanian untuk bangkit.
Dan bagi kami, itulah De Britto.
Tentang Perjalanan Menjadi Guru
Yang paling menyentuh dari seluruh tulisan ini adalah kemanusiaan yang kuat: tak ada jalan yang mulus, tak ada keputusan yang sepenuhnya rapi, tak ada perjalanan yang bebas dari luka dan jatuh.
Beberapa guru memulai karier sebagai penyiar radio, teknisi, sopir taksi, laboran, bahkan sempat ingin berhenti total dari dunia pendidikan.
- Ada yang tidak diterima di berbagai kampus.
- Ada yang ditolak kontraknya
- Ada yang merasa tidak percaya diri.
- Ada yang mengajar dengan gaji 80 ribu rupiah per bulan.
- Ada yang menangis diam-diam ketika kontraknya habis.
- Ada yang harus menempuh enam jam perjalanan hanya untuk mengajar satu kelas.
- Ada yang belajar mengajar anak tuli bermusik lewat getaran, atau anak buta memegang alat musik.
Semua pengalaman itu menegaskan satu hal: menjadi guru bukan pekerjaan mudah, tetapi ia menjadi panggilan ketika dilakoni dengan cinta.
Dan cinta itu, kata banyak penulis, mulai belajar tumbuh sejak masa SMA di De Britto.
Tentang Buku Ini
Buku ini bukan kumpulan teori.
Buku ini bukan buku motivasi.
Buku ini bukan kumpulan kisah heroik.
Buku ini adalah cermin dan kesaksian: bahwa pendidikan bisa menggerakkan hidup, bahwa benih yang ditanam di masa SMA bisa tumbuh puluhan tahun kemudian, bahwa panggilan bisa muncul dari tempat yang tidak terduga, dan bahwa guru, di balik semua kelelahannya, tetap manusia yang terus belajar.
Buku ini juga menjadi hadiah kecil dari para alumni guru untuk almamater kita. Hadiah yang lahir dari rasa terima kasih, kerinduan, sekaligus harapan, bahwa nilai-nilai Ignasian terus menyala, dan bahwa generasi baru De Britto akan terus ditempa menjadi pribadi yang bebas, humanis, dan bertanggung jawab.
Saya percaya, siapa pun yang membaca buku ini, guru, alumni, siswa, bahkan orang tua akan merasakan kehangatan yang sama: bahwa pendidikan adalah karya kemanusiaan dan karya iman. Setiap manusia selalu bisa menemukan panggilan melalui perjalanan yang panjang dan jujur.
Akhirnya, saya mengajak pembaca untuk menikmati buku ini dengan hati yang terbuka. Bacalah perlahan. Rasakan setiap ceritanya. Mungkin Anda akan menemukan kembali sebagian diri Anda di dalamnya. Mungkin Anda akan teringat pada seseorang guru, teman, atau momen yang mengubah hidup Anda. Dan mungkin, Anda akan menemukan bahwa panggilan hidup tidak pernah datang tiba-tiba. Ia bertumbuh, dirawat, dijatuhkan, bangkit lagi, dan terus menerus disempurnakan.
Selamat membaca.
Semoga buku ini menjadi berkat.
Dan seperti semboyan yang selalu kita dengungkan:
Demi Kemuliaan Tuhan yang Lebih Besar.
Heribertus Heri Istiyanto, S.Si., M.Kom. Lahir di Sleman pada 11 September 1982. Ia merupakan alumnus angkatan 2000 yang terus menghidupi nilai pembelajaran sepanjang hayat dalam karya profesionalnya. Saat ini mengajarkan Informatika di SMA Kolese De Britto. Memiliki ketertarikan kuat pada literasi digital dan inovasi pembelajaran. Hobi yang ditekuni, mulai dari membaca buku-buku inspiratif, berolahraga jogging, hingga mengeksplorasi dan mengembangkan pendekatan belajar yang kreatif, menjadi sumber energi sekaligus fondasi kreativitasnya dalam dunia pendidikan.


Comment