CP, TP, dan ATP Kurikulum Merdeka merupakan tiga istilah penting yang perlu dipahami guru ketika merancang pembelajaran. Ketiganya saling berkaitan, tetapi memiliki fungsi dan tingkat operasional yang berbeda. Jika CP menggambarkan kompetensi yang perlu dicapai murid pada akhir fase, TP membantu menerjemahkan capaian tersebut menjadi tujuan belajar yang lebih konkret, sedangkan ATP mengurutkan tujuan-tujuan tersebut agar perjalanan belajar murid lebih terarah.
Bagi guru yang baru menerapkan Kurikulum Merdeka atau sedang memperbarui perangkat pembelajaran, memahami hubungan antara CP, TP, dan ATP akan membantu proses perencanaan menjadi lebih sistematis. Artikel ini membahas CP, TP, dan ATP Kurikulum Merdeka mulai dari pengertian, perbedaan, hubungan, langkah penyusunan, sampai contoh sederhana yang dapat disesuaikan dengan mata pelajaran dan karakteristik murid.
Apa Itu CP, TP, dan ATP dalam Kurikulum Merdeka?

Secara sederhana, hubungan ketiganya dapat digambarkan sebagai berikut:
- CP (Capaian Pembelajaran) = kompetensi yang diharapkan dicapai murid pada akhir fase.
- TP (Tujuan Pembelajaran) = tujuan belajar yang lebih operasional untuk membantu murid mencapai CP.
- ATP (Alur Tujuan Pembelajaran) = rangkaian TP yang disusun secara sistematis dan logis sampai murid mencapai CP.
Pemerintah menyediakan referensi CP dan contoh inspirasi ATP melalui portal resmi CP & ATP Kemendikdasmen. Dokumen resmi tersebut dapat digunakan guru sebagai salah satu sumber ketika menganalisis capaian pembelajaran dan merancang tujuan pembelajaran.
Pengertian Capaian Pembelajaran (CP)
Capaian Pembelajaran atau CP adalah kompetensi pembelajaran yang harus dicapai murid pada akhir setiap fase. Dalam pendidikan dasar dan menengah, CP disusun untuk setiap mata pelajaran. Artinya, CP memberikan gambaran besar mengenai kemampuan yang diharapkan dimiliki murid setelah menyelesaikan suatu fase pembelajaran.
CP tidak sama dengan daftar materi yang harus disampaikan guru. CP lebih menekankan pada kompetensi yang perlu dicapai murid. Karena itu, ketika membaca CP, guru perlu melihat kemampuan apa yang harus ditunjukkan murid dan ruang lingkup materi yang menjadi konteks untuk mencapai kemampuan tersebut.
Dalam panduan resmi perencanaan pembelajaran, CP menjadi titik awal bagi pendidik untuk merancang pembelajaran. Guru menganalisis CP terlebih dahulu, kemudian merumuskan tujuan pembelajaran dan mengurutkannya menjadi alur tujuan pembelajaran.
Contoh sederhana CP
Misalnya dalam mata pelajaran Informatika Fase E, CP dapat memuat kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan berpikir komputasional, analisis data, algoritma, pemrograman, atau pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab. Rumusan CP bersifat cukup luas karena berlaku untuk satu fase, bukan hanya satu atau dua kali pertemuan.
Karena sifatnya masih umum, guru perlu menerjemahkan CP tersebut menjadi tujuan pembelajaran yang lebih konkret dan dapat digunakan untuk merancang pengalaman belajar di kelas.
Pengertian Tujuan Pembelajaran (TP)
Tujuan Pembelajaran atau TP merupakan tujuan yang perlu dicapai murid dalam proses pembelajaran. TP membantu guru menjawab pertanyaan: “Setelah mengikuti pembelajaran, kemampuan apa yang diharapkan dapat ditunjukkan murid?”
Dalam panduan pemerintah, tujuan pembelajaran dapat dirumuskan dengan memperhatikan setidaknya dua komponen utama, yaitu kompetensi dan lingkup materi. Kompetensi menjelaskan kemampuan yang perlu ditunjukkan murid, sedangkan lingkup materi menjelaskan konten atau konsep utama yang perlu dipahami.
Dengan demikian, TP sebaiknya tidak hanya berupa daftar materi. Kalimat seperti “siswa memahami algoritma” masih terlalu umum. Guru dapat membuatnya lebih operasional, misalnya “Murid mampu menjelaskan konsep algoritma dan menyusun langkah penyelesaian masalah sederhana menggunakan pseudocode.”
Ciri TP yang baik
- Berorientasi pada kemampuan murid.
- Berhubungan langsung dengan CP.
- Memuat kompetensi dan lingkup materi yang jelas.
- Dapat digunakan untuk menentukan aktivitas pembelajaran.
- Dapat membantu guru menentukan asesmen.
- Sesuai dengan karakteristik murid dan konteks satuan pendidikan.
Pengertian Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)
Alur Tujuan Pembelajaran atau ATP adalah rangkaian tujuan pembelajaran yang disusun secara sistematis dan logis sehingga murid dapat mencapai Capaian Pembelajaran pada akhir fase.
ATP bukan sekadar daftar TP yang ditempel berurutan. Guru perlu mempertimbangkan hubungan antartujuan, tingkat kompleksitas materi, kesiapan murid, serta urutan pengalaman belajar yang paling masuk akal.
Dalam panduan mata pelajaran pemerintah, pengurutan tujuan pembelajaran dapat mempertimbangkan beberapa pendekatan, misalnya dari konkret ke abstrak, dari mudah ke lebih sulit, secara hierarkis, prosedural, deduktif, atau menggunakan scaffolding.
Artinya, ATP berfungsi seperti peta perjalanan belajar. Guru dapat melihat tujuan mana yang perlu dicapai terlebih dahulu sebelum murid melanjutkan ke tujuan berikutnya.
Perbedaan CP, TP, dan ATP
| Aspek | CP | TP | ATP |
|---|---|---|---|
| Fungsi | Menentukan kompetensi akhir fase | Menentukan tujuan belajar yang lebih operasional | Mengurutkan TP menuju CP |
| Cakupan | Satu fase | Unit atau rangkaian pembelajaran tertentu | Rangkaian TP dalam satu fase |
| Sifat | Umum dan menyeluruh | Lebih konkret | Sistematis dan berurutan |
| Fokus | Kompetensi akhir | Kemampuan yang dipelajari | Urutan perjalanan belajar |
| Penggunaan | Titik awal analisis | Dasar aktivitas dan asesmen | Panduan urutan pembelajaran |
Jadi, jika disederhanakan: CP menjawab “murid harus mencapai apa pada akhir fase?”, TP menjawab “kemampuan apa yang perlu dicapai dalam pembelajaran?”, sedangkan ATP menjawab “bagaimana tujuan-tujuan tersebut diurutkan agar CP dapat dicapai?”
Hubungan CP, TP, dan ATP
Ketiga komponen tersebut tidak berdiri sendiri. Hubungannya dapat digambarkan sebagai sebuah alur:
CP → Analisis Kompetensi dan Materi → TP → Pengurutan TP → ATP → Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen
Guru terlebih dahulu membaca dan menganalisis CP. Dari analisis tersebut, guru mengidentifikasi kompetensi serta ruang lingkup materi yang relevan. Hasil analisis kemudian digunakan untuk merumuskan beberapa TP.
TP yang sudah dirumuskan selanjutnya diurutkan berdasarkan pertimbangan pedagogis dan karakteristik mata pelajaran. Rangkaian inilah yang menjadi ATP. Setelah itu, guru dapat mengembangkan perencanaan pembelajaran dan asesmen.
Untuk memperdalam pembahasan tentang perencanaan pembelajaran, guru juga dapat membaca artikel GuruTekno tentang cara membuat modul ajar dengan AI.
Contoh CP, TP, dan ATP Kurikulum Merdeka
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana menggunakan konteks mata pelajaran Informatika. Contoh ini bukan pengganti dokumen CP resmi dan perlu disesuaikan dengan CP mata pelajaran serta fase yang berlaku.
Contoh CP
Misalnya guru mengambil bagian CP yang berkaitan dengan kemampuan murid dalam memahami dan menerapkan algoritma untuk menyelesaikan persoalan.
Pada tahap ini, guru belum perlu langsung memikirkan aktivitas per pertemuan. Guru terlebih dahulu memahami kompetensi yang hendak dicapai dan ruang lingkup materi yang terkandung di dalam CP.
Contoh TP
Dari CP tersebut, guru dapat merumuskan beberapa TP, misalnya:
- Murid mampu menjelaskan pengertian dan karakteristik algoritma.
- Murid mampu mengidentifikasi masalah yang dapat diselesaikan menggunakan algoritma.
- Murid mampu menuliskan langkah penyelesaian masalah menggunakan pseudocode.
- Murid mampu membuat flowchart untuk menggambarkan algoritma sederhana.
- Murid mampu menguji dan memperbaiki algoritma berdasarkan hasil simulasi.
Kelima TP tersebut masih dapat dikembangkan lagi sesuai konteks kelas, tingkat kemampuan murid, dan karakteristik materi.
Contoh ATP
TP kemudian dapat diurutkan menjadi ATP seperti berikut:
- Mengenali masalah dan menentukan kebutuhan penyelesaian masalah.
- Menjelaskan konsep, karakteristik, dan struktur dasar algoritma.
- Menyusun langkah penyelesaian masalah dalam bentuk deskripsi atau pseudocode.
- Merepresentasikan algoritma menggunakan flowchart.
- Menguji, mengevaluasi, dan memperbaiki algoritma.
Urutan tersebut menunjukkan perkembangan belajar dari memahami masalah, memahami konsep, membuat algoritma, merepresentasikan algoritma, sampai menguji dan memperbaikinya.
Contoh CP, TP, dan ATP untuk Mata Pelajaran Lain
Contoh Bahasa Indonesia
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru dapat mengambil kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan memahami dan menghasilkan teks. TP dapat dirumuskan menjadi kemampuan mengidentifikasi struktur teks, menganalisis informasi, menyusun kerangka, menulis teks, dan merevisi tulisan. TP tersebut kemudian diurutkan menjadi ATP berdasarkan kompleksitas keterampilan.
Contoh Matematika
Untuk Matematika, guru dapat mengambil CP yang berkaitan dengan kemampuan memahami konsep tertentu dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. TP dapat bergerak dari mengenali konsep, menjelaskan hubungan antarkonsep, menggunakan prosedur, sampai menyelesaikan masalah kontekstual.
Contoh IPA
Dalam IPA, TP dapat dirancang dengan mempertimbangkan pemahaman konsep dan keterampilan proses. Murid dapat diarahkan untuk mengamati fenomena, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan data, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mengomunikasikan hasil.
Langkah Menyusun CP, TP, dan ATP
1. Baca CP secara utuh
Jangan langsung memecah CP menjadi TP berdasarkan kata per kata. Baca seluruh rumusan CP untuk memahami kompetensi dan lingkup materi secara utuh.
2. Identifikasi kompetensi dan materi
Tandai kemampuan yang harus ditunjukkan murid dan konsep atau konten yang menjadi lingkup pembelajaran. Tahap ini membantu guru menghindari TP yang hanya berisi daftar materi.
3. Rumuskan TP
Gunakan bahasa yang jelas dan berorientasi pada murid. Pilih kata kerja yang menunjukkan kemampuan yang dapat diamati atau dibuktikan melalui asesmen.
4. Kelompokkan TP yang saling berkaitan
Beberapa TP dapat memiliki hubungan yang erat. Pengelompokan membantu guru melihat kompetensi mana yang menjadi prasyarat bagi kompetensi berikutnya.
5. Urutkan menjadi ATP
Susun TP berdasarkan tingkat kesulitan, keterkaitan konsep, prosedur, kebutuhan prasyarat, atau strategi scaffolding. Pastikan urutan tersebut masuk akal bagi perkembangan belajar murid.
6. Hubungkan dengan asesmen
Setiap tujuan pembelajaran perlu dapat dibuktikan ketercapaiannya. Karena itu, setelah TP dan ATP tersusun, guru dapat menentukan bukti belajar dan asesmen yang sesuai.
7. Sesuaikan dengan konteks sekolah
ATP tidak seharusnya diperlakukan sebagai dokumen yang terlepas dari kondisi nyata sekolah. Guru perlu mempertimbangkan karakteristik murid, sumber daya, waktu yang tersedia, lingkungan belajar, dan konteks satuan pendidikan.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menyusun CP, TP, dan ATP
TP hanya berupa materi
Kesalahan umum adalah menulis “materi pecahan”, “algoritma”, atau “teks eksplanasi” sebagai TP. Pernyataan tersebut lebih tepat disebut topik atau lingkup materi. TP perlu menunjukkan kemampuan yang diharapkan dari murid.
ATP hanya daftar materi
ATP seharusnya menunjukkan alur tujuan pembelajaran, bukan sekadar daftar bab. Dua materi yang berbeda dapat memiliki hubungan kompetensi yang sama, sehingga guru perlu melihat perkembangan kemampuan murid.
Semua TP dianggap harus selesai dalam satu pertemuan
TP tidak selalu identik dengan satu kali pertemuan. Satu tujuan dapat membutuhkan beberapa pengalaman belajar, asesmen formatif, latihan, dan refleksi.
Terlalu banyak tujuan
TP yang terlalu banyak dan terlalu kecil dapat membuat perencanaan menjadi administratif dan kehilangan fokus. Rumuskan tujuan yang bermakna dan benar-benar mendukung pencapaian CP.
CP, TP, dan ATP dalam Perencanaan Pembelajaran
CP, TP, dan ATP menjadi dasar penting untuk mengembangkan pembelajaran, tetapi ketiganya bukan keseluruhan proses pembelajaran. Guru tetap perlu menentukan pengalaman belajar, strategi pedagogis, sumber belajar, media, serta asesmen.
Perencanaan pembelajaran pada akhirnya perlu menjawab tiga pertanyaan utama: apa yang perlu dicapai murid, bagaimana murid akan belajar untuk mencapainya, dan bagaimana guru mengetahui bahwa tujuan tersebut telah tercapai.
Karena itu, TP dan ATP sebaiknya tidak dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan administrasi. Dokumen tersebut akan lebih bermanfaat jika benar-benar digunakan sebagai peta untuk merancang pengalaman belajar yang bermakna.
Apakah Guru Harus Membuat ATP dari Nol?
Tidak selalu. Guru dapat memanfaatkan contoh atau referensi yang disediakan pemerintah, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan belajar murid dan konteks satuan pendidikan. Portal resmi Kemendikdasmen menyediakan referensi CP dan inspirasi ATP yang dapat menjadi titik awal bagi guru.
Yang penting adalah guru memahami logika di balik dokumen tersebut. Jika menggunakan contoh ATP, guru tetap perlu memeriksa kesesuaiannya dengan CP, karakteristik mata pelajaran, fase, alokasi waktu, dan kebutuhan murid.
Tips Praktis Membuat CP, TP, dan ATP Lebih Mudah
- Mulai dari CP, bukan dari daftar materi.
- Gunakan kata kerja yang menggambarkan kemampuan murid.
- Pisahkan antara kompetensi dan lingkup materi.
- Susun TP dari kemampuan dasar menuju kemampuan yang lebih kompleks.
- Pastikan setiap TP dapat dinilai ketercapaiannya.
- Gunakan konteks nyata agar tujuan pembelajaran lebih bermakna.
- Review ATP secara berkala berdasarkan pengalaman pembelajaran di kelas.
- Manfaatkan teknologi atau AI sebagai alat bantu menyusun ide, tetapi tetap lakukan verifikasi terhadap dokumen dan kebijakan resmi.
Guru juga dapat memanfaatkan AI untuk membantu membuat perangkat pembelajaran. Namun, hasil AI sebaiknya diposisikan sebagai bahan awal yang harus diperiksa kembali, bukan sebagai pengganti analisis profesional guru. Guru dapat membaca panduan tentang 20 prompt ChatGPT untuk guru sebagai referensi penggunaan AI dalam menyiapkan pembelajaran.
FAQ CP, TP, dan ATP Kurikulum Merdeka
1. Apa perbedaan CP dan TP?
CP menggambarkan kompetensi yang perlu dicapai murid pada akhir fase, sedangkan TP merupakan tujuan pembelajaran yang lebih operasional untuk membantu murid mencapai CP.
2. Apa kepanjangan ATP?
ATP adalah Alur Tujuan Pembelajaran, yaitu rangkaian tujuan pembelajaran yang disusun secara sistematis dan logis agar murid dapat mencapai CP pada akhir fase.
3. Apakah ATP sama dengan silabus?
Tidak persis sama. ATP berfokus pada urutan tujuan pembelajaran yang perlu dicapai murid. Silabus merupakan istilah dan format perencanaan yang memiliki karakteristik berbeda dalam kerangka kurikulum sebelumnya.
4. Apakah TP harus dibuat untuk setiap pertemuan?
Tidak. Satu TP dapat membutuhkan lebih dari satu pertemuan, tergantung kompleksitas kompetensi, materi, aktivitas, dan kebutuhan murid.
5. Apakah guru boleh menggunakan contoh ATP dari pemerintah?
Guru dapat menggunakan contoh yang disediakan pemerintah sebagai referensi dan menyesuaikannya dengan kebutuhan belajar murid serta konteks satuan pendidikan.
6. Apakah ATP harus sama untuk semua sekolah?
ATP perlu mengacu pada CP yang berlaku, tetapi pengembangannya dapat disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran, murid, sumber daya, dan konteks satuan pendidikan.
7. Apakah AI boleh digunakan untuk menyusun TP dan ATP?
AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menghasilkan alternatif rumusan, mengembangkan contoh, atau memeriksa struktur. Guru tetap perlu memvalidasi hasilnya terhadap CP dan dokumen resmi yang berlaku.
Kesimpulan
CP, TP, dan ATP Kurikulum Merdeka merupakan bagian yang saling berkaitan dalam merancang pembelajaran. CP memberikan arah kompetensi pada akhir fase, TP menerjemahkan arah tersebut menjadi tujuan belajar yang lebih operasional, sedangkan ATP menyusun TP dalam urutan yang logis dan sistematis.
Memahami perbedaan ketiganya akan membantu guru menyusun pembelajaran yang lebih terarah. Yang paling penting bukan sekadar memiliki dokumen CP, TP, dan ATP, tetapi menggunakan ketiganya untuk merancang pengalaman belajar, asesmen, dan kegiatan pembelajaran yang benar-benar membantu murid berkembang.
Untuk memastikan informasi selalu sesuai dengan kebijakan terbaru, guru sebaiknya memeriksa referensi resmi Kemendikdasmen tentang CP dan ATP serta panduan mata pelajaran yang relevan.
Catatan: contoh CP, TP, dan ATP dalam artikel ini merupakan contoh ilustratif. Guru perlu menyesuaikannya dengan dokumen CP resmi mata pelajaran, fase, dan kebijakan kurikulum yang berlaku.


Comment