“Pelayan yang setia adalah ia yang menjaga nyala api, dari altar hingga ke dalam kehidupan sehari-hari.”
Sebuah tagline yang terdengar sederhana, namun sesungguhnya menantang untuk diwujudkan: “Menjadi Pelayan yang Bahagia.” Bagi banyak orang, kata pelayan sering kali identik dengan pengorbanan, kesediaan untuk melayani tanpa pamrih, menghadapi berbagai tuntutan, bahkan melakukan tugas-tugas yang tidak selalu mudah dan menyenangkan. Dalam logika manusiawi, melayani dan bahagia seolah menjadi dua hal yang bertolak belakang. Jika menjadi pelayan berarti harus memberikan diri bagi orang lain, lalu bagaimana mungkin seseorang dapat tetap merasakan sukacita dan kebahagiaan dalam pelayanannya?
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu benang merah dalam Rekoleksi Prodiakon Paroki Maria Marganingsih Kalasan yang diselenggarakan pada Minggu–Senin, 31 Mei – 1 Juni 2026 di PPSM Muntilan. Kegiatan yang diikuti oleh 144 prodiakon ini berlangsung selama dua hari dalam suasana yang hangat, penuh persaudaraan, sekaligus menjadi kesempatan untuk memperdalam spiritualitas pelayanan.
Melalui berbagai sesi refleksi, sharing pengalaman, dinamika kelompok, hingga perayaan Ekaristi, para peserta diajak untuk melihat kembali panggilan mereka sebagai pelayan Tuhan yang diutus di tengah Gereja dan masyarakat. Tema besar rekoleksi ini tampak jelas dalam salah satu sesi utama yang dibawakan oleh Rm. Yohames Dwi Harsanto (Rama Santo), Vikaris Episkopal Kategorial Keuskupan Agung Semarang, yaitu “Menjaga Nyala Api Pelayanan.”
Dalam renungannya, Rama Santo mengawali dengan sebuah ungkapan Jawa yang sangat mengena:
“Luwih angel njaga urub, tinimbang daden geni.”
Lebih sulit menjaga api tetap menyala daripada menyalakan api pertama kali.
Menurut beliau, semangat pelayanan sering kali meredup bukan karena tidak pernah memiliki api, tetapi karena kurang mampu menjaganya. Pengalaman yang sudah lama dijalani kadang membuat seseorang merasa cukup dan tidak lagi bertumbuh. Rasa bosan, kekecewaan dalam bekerja sama, kebiasaan yang dijalani secara rutin tanpa makna, hingga perasaan diri paling penting dapat menjadi penyebab nyala pelayanan semakin redup.



Mengacu pada Injil Lukas 12:49, Rama Santo mengingatkan bahwa Yesus telah melemparkan api ke dalam diri setiap murid-Nya. Api itu adalah komitmen pelayanan, dan tugas setiap pelayan adalah menjaga agar api tersebut tetap menyala sepanjang hidup.
Lalu bagaimana cara menjaga nyala api pelayanan itu?
Rama Santo menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami desolasi, yaitu masa-masa kering, hampa, dan kehilangan semangat, ia diajak untuk tetap setia menjalankan kebiasaan-kebiasaan rohani yang baik. Berdoa secara pribadi, mengikuti Ekaristi, mendengarkan Sabda Tuhan, menerima Sakramen Tobat, mendengarkan keluh kesah sesama, serta tetap hidup dalam komunitas menjadi sarana untuk bertahan dalam masa-masa sulit tersebut. Desolasi bukanlah keadaan yang permanen; dengan kesetiaan dan harapan kepada Tuhan, masa itu akan berlalu dan rahmat Tuhan akan kembali dirasakan.
Sebaliknya, ketika mengalami konsolasi atau hiburan rohani, seseorang diajak untuk tetap rendah hati. Sukacita, kedamaian, dan semangat yang dirasakan bukanlah hasil kehebatan pribadi, melainkan anugerah Tuhan. Karena itu, masa konsolasi justru menjadi saat yang tepat untuk lebih kreatif, menghadirkan gagasan baru, serta memperkaya pelayanan dengan semangat yang segar.
Selain itu, menjaga nyala api juga membutuhkan kesediaan untuk terus belajar dan berlatih. Seorang prodiakon tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman yang telah dimiliki. Ia perlu terus mengembangkan diri, mulai dari berlatih membawakan renungan, menunjukkan keramahan melalui senyum kepada umat yang dilayani, mengembangkan kecerdasan emosi, membangun relasi sosial yang sehat, hingga memperdalam pemahaman tentang sejarah dan ajaran Gereja Katolik. Semua itu merupakan bentuk konkret menjaga agar api pelayanan tetap hidup dan berkembang.
Menariknya, rekoleksi ini tidak hanya berisi materi dan refleksi pribadi. Berbagai sesi sharing kelompok memberikan ruang bagi para prodiakon untuk saling berbagi pengalaman, tantangan, serta sukacita dalam pelayanan. Dari cerita-cerita yang dibagikan, tampak bahwa setiap pelayan memiliki pergulatan dan tantangan yang berbeda-beda. Namun di balik semua itu, ada semangat yang sama: keinginan untuk terus melayani dengan setia dan menghadirkan kasih Tuhan bagi sesama.
Seluruh rangkaian kegiatan rekoleksi ditutup dengan Misa Perutusan yang dipimpin oleh Romo Dadang Hermawan, Pr. dan Romo Santo. Dalam perayaan ini, para prodiakon kembali diteguhkan untuk menjalankan tugas pelayanan mereka dengan semangat yang baru, hati yang lebih terbuka, dan komitmen yang semakin kuat.
Bagi banyak peserta, termasuk penulis, rekoleksi yang dikemas secara sederhana, hangat, dan penuh persaudaraan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Selain memperoleh peneguhan rohani, peserta juga mendapat kesempatan untuk mengenal lebih dekat berbagai pengalaman pelayanan dari prodiakon lain. Dari sana muncul kesadaran bahwa setiap pelayan memiliki tantangan masing-masing, tetapi semuanya dipanggil untuk menjaga api yang sama: api kasih, api iman, dan api pelayanan.
Rundwon Acara

Semoga semangat yang diperoleh dalam rekoleksi ini tidak berhenti di PPSM Muntilan, tetapi terus menyala dalam kehidupan sehari-hari. Sebab seperti yang diingatkan dalam rekoleksi ini, pelayan yang bahagia bukanlah pelayan yang tidak pernah lelah, melainkan pelayan yang terus menjaga nyala api panggilannya agar tetap hidup di tengah segala situasi.
Materi “Menjaga Nyala Api dari Romo Santo”
Foto-foto berasal dari Dokumentasi Panitia dan Foto Pribadi Penulis


Comment